Kandungan film ini dapat di bagi menjadi tiga poin besar, yaitu eksploitasi pekerja (buruh), kasus utang luar negeri, dan globaliasi itu sendiri. Mengenai buruh, Pilgers memaparkan kondisi buruh pabrik di Indonesia yang bekerja di perusahaan multinasional seperti Nike, Adidas, GAP, jauh dari hak-haknya sebagai pekerja, di mana mereka memperoleh upah yang rendah, jam kerja yang tidak teratur, dan kondisi tempat kerja yang mengenaskan, dipaksa untuk terus bekerja dan seakan tidak punya pilihan lain selain terus melakukan apa yang diperintahkan oleh bos-bos pabrik.
adanya ketidakadilan yang diterima oleh para buruh pabrik tersebut, Pilgers memaparkan salah satu contoh dari produksi celana tinju yang di jual seharga Rp. 112.000 di toko dan dari penjualan tersebut seorang buruh hanya memperoleh upah sebanyak Rp. 500 dan penjualan sepatu olah raga seharga Rp. 1,4 juta di toko dan dari penjualan tersebut para pekerja hanya memperoleh upah sebesar Rp.5000. Hal ini memperlihatkan bahwa ada pencurian nilai lebih yang dilakukan oleh perusahaan terhedap para pekerja. Dikarenakan perusahaan tidak dapat mengambil keuntungan dari bahan baku yang nilainya habis setelah produksi, maka pihak perusahaan pun mengambil keuntungan dengan mengharuskan para pekerja bekerja melebihi jam kerja yang wajar guna memproduksi produk dengan lebih banyak dan lebih cepat, sedangkan mereka di bayar dengan nilai sangat kecil jauh dari nilai penjualan produk yang mereka hasilkan, sehingga mereka pun tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Globalisasi tidak selalu berdampak positif, akan tetapi banyak juga dampak-dampak negatif yang timbul akibat arus kuat globalisasi dan disisi lain tidak di imbangi oleh kesiapan dari sumber-sumber daya manusianya secara kualitas yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan dari globalisasi yakni penurunan kemiskinan, pengangguran yang berkurang dan kesejahteraan meningkat. John Pilger menyatakan bahwa globalisasi yang sebenarnya adalah meluasnya jurang pemisah diantara yang kaya dan miskin, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Rendahnya lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia tentu menjadi salah satu faktor penyebab masalah ini. Hasilnya banyak dari penduduk rela bekerja apa saja hanya untuk mendapatkan uang agar bisa mencukupi kehidupannya sehari-hari. Hal ini pun dimanfaatkan oleh negara-negara kapitalis untuk membuka pabrik-pabrik besar. Negara kapitalis tersebut mendapatkan keuntungan karena mereka mendapatkan tenaga kerja dengan jumlah besar tanpa harus mengeluarkan uang banyak untuk mengurusi kesejahteraan mereka.
Selain itu film ini juga mengungkapkan bagaimana organisasi seperti World Trade Organization (WTO), International Monetary Fund (IMF), dan World Bank memanfaatkan globalisasi untuk memasuki negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia agar bisa mengintervensi kebijakan negara tersebut demi keuntungan yang ingin dicapai oleh organisasi-organisasi tersebut.
Organisasi-organisasi tersebut berhasil masuk ke Indonesia pada rezim Soeharto. Mereka berhasil menjerat Indonesia dengan memberikan pinjaman dengan dalih sebagai pembangunan Indonesia. Pada faktanya sebagian besar pinjaman tersebut tidak digunakan untuk melakukan pembngunan nasional tapi dikorupsi oleh Soeharto beserta kroni-kroninya. Pada saatnya pinjaman tersebut telah habis masa pinjamannya, rakyat lah yang menerima beban untuk mengambalikan pinjaman tersebut, bukan Soeharto atau kroni-kroninya yang telah mengantongi uang pinjaman tersebut untuk keuntungan pribadi mereka.
Dengan dimulainya globalisasi yang terjadi di Inggris pada tahun 1980- an, maka dimulailah kerjasama yang menguntungkan para diktator dunia dan mulailah perekonomian Eropa dibangun. Untuk membangun perekonomian Eropa maka di bentuklah IMF dan Bank Dunia dan selanjutnya dua lembaga ini memberikan pinjaman uang untuk negara miskin dengan syarat dibiarkan memasuki ekonomi negara tersebut dan meminta negara yang mereka pinjami unag untuk mengizinkan perusahaan barat mengolah bahan mentah dan pasar di negara tersebut. Dengan hal ini maka bagi negara yang terlilit hutang dengan dua lembaga ini akan sulit untuk keluar dari jeratan hutang dan akan semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan. Menurut John Pilger sistem yang diterapkan oleh IMF dan Bank Dunia bukanlah suatu sistem yang bertujuan untuk membangun dan memperbaiki perekonomian negara di seluruh dunia, namun sistem yang berupa bentuk sosialisme bagi si kaya dan kapitalisme bagi si miskin.
Dari sedikit pemaparan film ini bisa dijabarkan sebuah penjelasan atas fenomena yang tergambar dalam film ini yakni Indonesia yang digambarkan sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah, namun privatisasi digalakkan, kedaulatan politik mulai terkikis, kemiskinan merajalela, dan ketergantungan yang sangat besar, mengalami hambatan dalam melaju menuju cita-cita. Dengan kondisi seperti ini, bangsa yang sangat besar ini menjadi tidak merdeka atas dirinya sendiri. Situasi demikian ini bukanlah karena takdir, terjadi akibat runtuhnya system yang berkeadilan dan ketiadaan karakter kuat atas fenomena sistemik ini.
“Runtuhnya” kedaulatan ini tidak semata-mata terjadi dalam dimensi Negara-bangsa, dimensi social-budaya juga terkikis gesekan hebat dari system ini, kapitalisme global. Disadari atau tidak, masuknya modal-modal asing dalam pengelelolaan sumber daya ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, patronase terhadap globalisasi neo-liberalisme, dan utang luar negeri yang menumpuk, semakin memperberat derap langkah bangsa ini dalam menegakkan supremasi kedaulatan Negara.